• Suku Dayak Iban dan Kayan, Kalimantan
Di suku ini, perempuan akan mengalami proses penatoan pada tubuh, setelah hari pertama menstruasi. Supaya badan si cewek enggak bergerak saat ditato, satu lesung besar ditaruh di atas tubuhnya. Uniknya, kalau merasa kesakitan dan pengen nangis, suara tangisan harus dilakukan memakai alunan nada khusus. Selama proses ini, semua laki-laki dilarang ke luar rumah.
• Suku Mee, Paniai, Papua
Di sini, cewek-cewek yang baru mendapat menstruasi pertama dikumpulkan dalam satu pondok, yang sudah dibangun oleh saudara laki-lakinya. Selama menstruasi, cewek tersebut enggak boleh tidur, pada malam hari harus terjaga, supaya enggak mimpi buruk. Jika menstruasi selesai, pondok tadi harus dibakar berikut pakaian yang dipakai selama tinggal di pondok. Mereka juga harus memerhatikan ke mana angin membawa asapnya terbang, karena arahnya menandakan apakah si cewek tersebut akan menikah atau enggak.
• Suku Karen, Thailand
Cewek-cewek di suku Karen, dianggap cantik ketika memakai gelang di leher, yang sudah dipakai sejak mereka berusia lima tahun dan akan bertambah saat mendapat menstruasi pertama. Selanjutnya, gelang-gelang ini hanya boleh dibuka tiap dua atau tiga tahun sekali, itu pun hanya untuk menambah jumlahnya. Uniknya, kaum cewek di suku ini hanya boleh hidup sampai umur 45-50 tahun, karena berat gelang yang mencapai 7 kg, dipercaya merusak tulang leher jika usia bertambah tua.
• Suku Beng, Pesisir Ivory, Afrika Barat
Cewek yang pertama menstruasi di suku ini, harus tinggal di goa-goa desa bernama menstrual huts. Saat pengasingan ini, mereka enggak boleh ketemu keluarga dan menyentuh makanan jenis tertentu. Baru boleh balik ke rumah lagi setelah menstruasinya selesai.
• Suku Solomon, Kep. Solomon, Pasifik Selatan
Sama kayak di Kalimantan, cewek-cewek yang baru pertama kali menstruasi mengalami penatoan pada wajahnya, pertanda tahapan baru dalam kehidupan. Dipimpin kepala adat, teknik penatoan yang dipakai masih manual. Jarum untuk membuat tato berasal dari tulang binatang, tintanya berasal dari bahan tradisional. Upacara ini diadakan agar semua penduduk tahu kalau ada cewek yang sudah menjadi remaja dewasa.
• Suku TiV, Nigeria Tengah
Upacara di sini disebut Imborivungu atau tradisi burung hantu. Saat upacara, si cewek seolah-olah dikorbankan untuk menggambarkan bentuk tanggung jawabnya sebagai remaja dewasa kepada bumi. Bertempat di perkebunan, upacara yang berlangsung sampai tengah malam ini dipimpin Kepala Suku.
• Suku Bijonos, Guinea Bissau, Afrika
Upacara menstruasi pertama kali di sini berbahaya. Si cewek harus berdiri di atas api didampingi beberapa wanita untuk dimurnikan jiwanya. Tapi jangan khawatir, sebelum upacara berlangsung Kepala Suku sudah mengucap doa-doa supaya si cewek enggak beneran terbakar. Selama upacara, si cewek juga harus menarikan tari Trans bersama wanita desa lainnya.
• Suku Mogul, Turki
Di desa Anatolian yang dihuni suku Mogul, cewek-cewek mendapat menstruasi pertama kali diasingkan di gubuk khusus, yang dibangun saudara laki-lakinya. Selama itu, cewek-cewek enggak boleh berbicara kepada laki-laki. Yang boleh berkunjung dan ngobrol dengan mereka hanya ibu dan neneknya. Di pengasingan inilah, mereka belajar semua keterampilan seperti memasak dan menjahit. ***
sumber Majalah Cosmogirl