my teen diary











{April 2, 2009}   aku dan teman2ku

Seperti udah aku sebutin, aku kelas VIII atau kelas II SMP 10. Satu kelas kawanku ada 34 orang 15 diantaranya ceweq termasuk aku.

Daiantara sekian banyak temen beberapa yang kenal baik atau menonjol.

Ana, temen se kampung cuman beda RT aja. Ana anak yang sedikit tomboy, dengan rambut pendek kurang dari sebahu. Kalau sekolah sering naik sepeda gunung. Ana cukup berprestasi di sekolah terutama untuk mata pelajaran yang memerlukan hapalan seperti IPS. Dia anak bungsu 3 bersaudara, cuma dia yang ceweq, makanya dia tomboy banget. Namun demikian yang namanya ama anak cowoq anti banget. Dari ceritanya aku tahu bahwa dia udah ngalamin mens sejak tamat SD dan dia pernah ngajari aku caranya pake tampon. Wow, aku tanya darimana dia tau dan apa dia ngga takut kalau merusak hymen. Dia jawab bahwa sepupunya yang ngajarin pertama dan its ok for her hymen, malah nyaman kalau lagi dapet dan pas ada pelajaran olah raga ga risih katanya, juga asyik buat renang ga kuatir. Kalau aku sich takut aja. Mens pertamanya saat pulang sekolah setelah pelajaran olahraga. Sesampai di rumah katanya ganti baju didapatinya undies yang berbercak. Untungnya dia sudah dapet pengetahuan dari Ibu dan Kakak sepupunya. Mesti tomboy Ana punya kelebihan soal kewanitaan yaitu pinter masak, ga tau bisa berlawanan kutub gitu.

Heni, masih satu kampung juga denganku dan dia satu RT dengan Ana. heni anak tunggal, anaknya cute dan sangat feminim apalagi kalau pake gaun dan rambutnya yang panjang terurai. Mesti feminim, Heni jago banget hal-hal teknis dan yang berbau IPA. Seperti Ana Henipun udah ngalamin mens sejak semester II kelas 1 yang lalu. Menurutnya saat itu pagi hari sebangun tidur sprei tempat tidurnya didapati bercak merah membasahi. Karena panik dan takut disembunyikannya sprei itu setelah dibungkus plastik. Persembunyiaanya diketahui pembantu. Malunya ga ketulungan katanya. Rupanya Ibunya yang super sibuk ga menyadari untuk memberi pengetahuan tentang hal itu. Dari temen-temenku tinggal aku saja yang belum ‘dapet’. Namun aku merasa beruntung udah ada pengalaman dari temen sehingga bisa prepare dulu juga Emak yang sangat membantu

Kami bertiga merupakan kawan dan sahabat yang sering disebut trio cindil. Cindil adalah anak tikus yang senangnya bergerombol disudut ruang. Kami sering melakukan aktifitas bareng seperti belajar kelompok, jalan bareng entah emang jalan kaki atau bersepeda, jogging di minggu pagi atau rujakan. Hal paling gila yang pernah kami lakukan adalah mandi bareng. Kejadiannya dua minggu yang lalu saat Papa dan Mama-nya Heni pergi ke Jakarta untuk urusan bisnis. Heni ditinggal dan hanya ditemeni lik Mar pembantu setianya. Atas ijin orang tua Heni kami boleh menginap untuk menemani Heni. Kejadian mandi bareng itu sore hari sepulang kami jalan-jalan. Awalnya mandi antri sendiri-sendiri di kamar Heni yang cukup besar. Heni yang mandi duluan eh tiba-tiba aja Ana ngetuk pintu kamar mandi dan ikutan membasahkan tubuh. Merekapun akhirnya teriak manggil aku untuk bergabung. Awalnya malu, Ana dan aku masih berpakaian lengkap. Tapi demi kebersihan bersabun maka pakaian mulai ditanggalkan. Disitulah kami bisa melihat bagian pribadi masing-masing. Ana dan Heni sudah punya gundukan cukup besar di dadanya. Kata mereka nomer branya 32A, sementara punyaku hanya tonjolan kecil saja. Aku jadi ngiri. Di bagian bawah Heni sudah punya hutan yang cukup lebat sedangkan punyaku berupa semak belukar. Aku dan Heni tertawa melihat punya Ana yang gundul. Ternyata punya Ana dicukur dan dia menyarankan pada kami juga. Ihik, koq beberapa artikel yang aku baca di internet ada dalam kenyataan di kotaku yang sebenarnya cukup kecil.



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain